Kamis, 23 April 2015

Soft Skill Psikoterapi

Artikel 1, 2 dan 3
Artikel 1
Terapi Psikoanalisis Freud


Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi

Secara historis → aliran pertama dari 3 aliran utama psikologi

Sumbangan utama psikoanalisis :
1. kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada perbedaan penderitaan manusia
2. tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor tak sadar

3. perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yg kuat terhadap kepribadian dimasa dewasa
4. teori psikoanalisis menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang di gunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan
5. terapi psikoanalisis telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketidak sadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi
 
Konsep-konsep utama terapi psikoanalisis
1.     struktur kepribadian
·        id
·        ego
·        super ego

2.     pandangan tentang sifat manusia
     pandangan freud tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik dan reduksionistik

3.     kesadaran & ketidaksadaran
konsep ketaksadaran
  • mimpi-mimpi → merupakan representative simbolik dari kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat  konflik
  • salah ucap / lupa → thd nama yg dikenal
  • sugesti pascahipnotik
  • bahan-bahan yang berasal dari teknik-teknik asosiasi bebas
  • bahan-bahan yang berasal dari teknik proyektif


4.     Kecemasan
        Adalah suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu
Fungsi → memperingatkan adanya ancaman bahaya. 3 macam kecemasan
  • Kecemasan realistis
  • Kecemasan neurotic
  • Kecemasan moral
Tujuan terapi Psikoanalisis
       Membentuk kembali struktur karakter individu dg jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien. Focus pada uapaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.

Fungsi & peran Terapis
   Terapis / analis membiarkan dirinya anonym serta hny berbagi sedikit perasaan & pengalaman shg klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis.
Peran terapis:

  • Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hub personal dlm menangani kecemasan secara realistis
  • Membangun hub kerja dengan klien, dengan byk mendengar & menafsirkan
  • Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien
  • Mendengarkan kesenjangan2 & pertentangan-pertentangan pada cerita klien
 Pengalaman klien dalam terapi
·        Bersedia melibatkan diri kedalam proses terapi yg intensif & berjangka panjang
·        Mengembangkan hub dg analis / terapis
·        Mengalami krisis treatment
·        Memperoleh pemahamn atas masa lampau klien yang tak disadari
·        Mengembangkan resistensi2 untuk belajar lebih banyak tentang diri sendiri
·        Mengembangkan suatu hub transferensi yang tersingkap
·        Memperdalam terapi
·        Menangani resistensi-resistensi & masalah yang terungkap
·        Mengakhiri terapi

Hub terapis & klien
    Hub dikonseptualkan dalam proses tranferensi yg menjadi inti Terapi Psikoanalisis. Transferensi mendorong klien untuk mengalamatkan pd terapis “ urusan yg belum selesai” yg terdapat dalam hub klien dimasa lalu dengan orang yang berpengaruh. Sejumlah perasaan klien timbul dari konflik-konflik seperti percaya lawan tak percaya, cinta lawan benci. Transferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yg menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan & dendamnya. Jika analis mengembangkan pandangan yg tidak selaras yg berasal dari konflik2 sendiri, maka akan terjadi kontra transferensi:

  • Bentuk kontratransferensi: perasaan tdk suka / keterikatan & keterlibatan yg berlebihan
  • Kontratransferensi dapat mengganngu kemajuan terapi
Teknik dasar Terapi Psikoanalisis
1.     Asosiasi bebas
→ adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman masa lalu & pelepasan emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu
2.     Penafsiran
→ Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi dan transferensi bentuk nya = tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna3.     Analisis Mimpi
→ Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tidak disadari dan memberikan kpd klien atas beberapa area masalah yg tak terselesaikan
4.     Analisis dan Penafsiran Resistensi
→ Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan yang ada dibalik resistensi shg dia bias menanganinya
5.     Analisis & Penafsiran Transferensi
→ Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis krn mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu nya dalam terapi



Artikel 2
Humanistic Eksistensial

Definisi dan Sejarah Terapi Humanistik-Eksistensial 

   Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).
   Meskipun tokoh-tokoh  psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world) dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 1986 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya, dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.
    Teori eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam.
Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasi terapi. Pendekatan atau teori eksistensial-humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.
  Pendekatan eksistensial-humanistik mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, sentral memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa manusia selalu ada dalam proses pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung mengaktualkan dan memenuhi potensinya. Pendekatan eksistensial secara tajam berfokus pada fakta-fakta utama keberadaan manusia – kesadaran diri dan kebebasan yang konsisten.
    Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksistensial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.

Konsep Utama Terapi Humanistik-Eksistensial

  • Kesadaran Diri

Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

  • Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan

Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

  • Penciptaan Makna

Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.

Tujuan-tujuan Terapeutik:

    Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak atas kemampuannya.

Fungsi dan Peran Terapis dalam Terapi Humanistik-Eksistensial:

  Terapis dalam terapi humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana tekhnik yang digunakannya itu selalui mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.


Artikel 3
Person Centered Therapy (Rogers)

BIOGRAFI : CARL ROGERS
    Carl Ransom Rogers lahir pada tahun 1902. Dia adalah anak keempat dari enam bersaudara dan dia dibesarkan di sebuah peternakan di Illinois. Orangtuanya adalah penganut Kristen fundamentalis yang taat, yang kemudian Rogers menggambarkannya sebagai orang yang sangat suka mengekang. Ia menceritakan bagaimana orang tuanya mengajarkan agar ia menjaga jarak ketika sedang berinteraksi dengan orang asing
   Dinamika keluarga Rogers nampaknya mendasari perubahan-perubahan sosial dan personalnya. Dalam berbagai hal, sebagai seorang ahli terapi, Rogers dituntut untuk menciptakan lingkungan terapi yang benar-benar ramah, terbuka, dan nyaman. Ia mencoba membantu kliennya merasakan sebuah pengalaman yang merupakan kutub yang berlawanan dengan apa yang dialaminya dengan orang tuanya.
    Walaupun orang tuanya tidak peduli dengan intelektualitas, Roger tetap kuliah, mulanya mengikuti peraturan keluarga dengan mengambil jurusan pertanian. Ia juga tergabung dalam kelompok Asosiasi Pemuda Kristen dan menjadi salah satu dari dua belas mahasiswa yang terpilih untuk menghadiri Konferensi Federasi Mahasiswa Kristen Dunia di Peking, China.
Dalam perjalanan inilah, menurut Bankhart, “Rogers tampak seperti Rogers.” Ia pergi selama enam bulan. Bagaimanapun pengalaman ini membawa perubahan-perubahan pada diri Rogers: Dia menolak ideologi orangtuanya yang konservatif. Dia memutuskan untuk menikahi kekasih masa kecinya. Ia memutuskan untuk meraih gelar masternya di Seminari Teologi Negara Liberal di New York.
  Person-centered therapy dikembangkan oleh Carl Rogers. Ini jenis terapi menyimpang dari pandangan tradisional terapis sebagai ahli dan bergerak bukan ke arah pendekatan non-direktif yang diwujudkan teori aktualisasi kecenderungan. Teori mewujudkan kecenderungan mengatakan manusia memiliki potensi untuk menemukan realisasi kemampuan pribadi mereka sendiri. Landasan ini metode terapi ini berasal dari keyakinan bahwa setiap manusia berusaha untuk menemukan kepuasan mereka sendiri dan pemenuhan potensi sendiri. Carl R. Rogers menyatakan bahwa, “Individu memiliki dalam diri mereka sendiri sumber daya yang luas untuk pemahaman diri dan untuk mengubah diri mereka-konsep, sikap dasar, dan self-directed perilaku, sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan jika iklim didefinisikan sikap psikologis fasilitatif dapat diberikan “(dari Carl R. Rogers. Cara Menjadi Boston: Houghton Mifflin,. 1980, hal.115-117).
   Rogers mengidentifikasi enam faktor utama yang merangsang pertumbuhan dalam individu. Dia menyarankan bahwa ketika kondisi ini terpenuhi, orang akan tertarik ke arah pemenuhan potensi konstruktif. Menurut teori Rogerian, enam faktor yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah:
Terapis-Klien Kontak Psikologis: harus ada hubungan yang berbeda dan dikenali antara terapis dan klien dan harus divalidasi oleh kedua belah pihak.
Klien ketidaksesuaian, atau Kerentanan: klien rentan terhadap ketakutan dan kecemasan yang mencegah mereka meninggalkan hubungan atau situasi dan bahwa ada bukti yang jelas tentang ketidaksesuaian antara apa yang klien menyadari dan pengalaman aktual.
Therapist Kongruensi, atau keaslian: terbukti bahwa terapis diinvestasikan dalam hubungan dengan klien untuk tujuan penyembuhan. Terapis benar-benar tertarik dalam pemulihan mereka dan dapat mengakses pengalaman mereka sendiri sebagai bantuan dalam proses pemulihan.

Terapis Regard Positif Unconditional (UPR): ada unsur yang mengungguli semua orang lain, dan itu adalah unsur penerimaan tanpa syarat. Dengan menyediakan platform keterbukaan dan penerimaan, klien dapat mulai untuk menghilangkan persepsi miring mereka sendiri bahwa mereka dikumpulkan dari orang lain.

Therapist pemahaman empatik: klien merasa empati asli dari terapis berkaitan dengan konstruk internal mereka dan persepsi. Ini perasaan empati membantu memperkuat perasaan cinta tanpa syarat.
Persepsi Klien: persepsi hal positif tanpa syarat dan penerimaan empatik lengkap dan pemahaman yang dirasakan oleh klien, jika bahkan hanya sedikit.

Konsep-konsep dasar Terapi Person-Centered
  • Menekankan pada dorongan dan kemampuan yang terdapat dalam diri individu yang berkembang, untuk hidup sehat dan menyesuaikan diri.
  • Menekankan pada unsur atau aspek emosional dan tidak pada aspek intelektual.
  • Menekankan pada situasi yang langsung dihadapi individu, dan tidak pada masa lampau.
  • Menekankan pada hubungan terapeutik sebagai pengalaman dalam perkembangan individu yang bersangkutan.

Konsep dasar pandangan tentang manusia
   Pandangan person centered tentang sifat manusia konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negatif dasar. Rogers menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia sebagai tersosialisasi dan bergerak ke muka, sebagai berjuang untuk berfungsi penuh, serta sebagai bmemiliki kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam. Pendek kata, manusia dipercayai dan karena pada dasarnya kooperatif dan konstruktif, tidak perlu diadakan pengendalian. Maka dengan pandangan ini, terapi person-centered berakar pada kesanggupan seseorang (klien) untuk sadar dan membuat putusan-putusan

Tujuan utama pendekatan person-centered therapy adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif sebagai usaha untuk membantu konseli menjadi pribadi yang utuh, yaitu pribadi yang mampu memahami kekurangan dan kelebihan dirinya dirinya. Tidak ditetapkan tujuan khusus dalam pemdekatan person-centered, sebab konselor digambarkan memiliki kepercayaan penuh pada konseli untuk menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dari dirinya sendiri.
Secara lebih terperinci, tujuan konseling person-centered adalah :
  • Membantu konseli untuk menyadari kenyataan yang terjadi terhadap dirinya
  • Membantu konseli untuk membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru
  • Menumbuhkan kepercayaan diri konseli
  • Membantu konseli membuat keputusan sendiri
  • Membantu konseli menyadari bahwa manusia tumbuh dalam suatu proses

Peran Terapist pada proses terapi adalah :
  • Terapis tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses perkembangan terapi tetapi itu dilakukan oleh klien sendiri.
  • Terapis merefleksikan perasaan-perasaan klien sedangkan arah pembicaraan ditentukan oleh klien.
  • Terapis menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau kenyataan yang bagaimanapun.
  • Terapis memberi kebebasan kepada klien untuk mengekspresikan perasaan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.

Kelebihan Dan Kekurangan Person Centered Therapy:

Kelebihan dari terapi ini klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya dan dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi. 
Kekurangannya: Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal dan terapi menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif.

Daftar Pustaka:

Feist, Jess  & Gregory J, Fest. (2011). Teori kepribadian, edisi 7 buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.

Selasa, 24 Maret 2015

PSIKOTERAPI



Artikel 3

Pendekatan Psikoterapi dan Mental illness

a. Biological, meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin dalam tubuh. Lalu dikembangkan terapi injeksi insulin. juga mulai dikembangkan upaya bedah otak di London.

b. Psychological, meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuele pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respons emosional penuh stress yang dilimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu. Ini dimulai dari teori psikoanlisis Freud tahun (1856-1939)

c. Sosiological, meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalaketakutan. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.

d. Philosophic, kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yaitu menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

e. Psychoanalysis & Psychodynamic, pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939), seorang neurologist dari Austria. Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif. Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan. Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui insight (pemahaman pribadi).
Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan psikodinamik adalah: Ego State Therapy, Part Therapy, Trance Psychotherapy, Free Association, Dream Analysis, Automatic Writing, Ventilation, Catharsis dan lain sebagainya.

f. Behavior Therapy, pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan classical conditioning atau associative learning. Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan. Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.

g. Cognitive Therapy, terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck. Tujuan utama dalam pendekatan kognitif adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan kognitif adalah Collaborative Empiricism, Guided Discovery, Socratic Questioning, Neurolinguistic Programming, Rational Emotive Therapy (RET), Cognitive Shifting. Cognitive Analytic Therapy (CAT) dan sebagainya.

h. Humanistic Therapy, pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri. Metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah Gestalt Therapy, Client Cantered Psychotherapy, Depth Therapy, Sensitivity Training, Family Therapies, Transpersonal Psychotherapy dan Existential Psychotherapy.

i. Integrative/Holistic Therapy, integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan. Seperti seorang klien yang mengalami komplikasi gangguan psikologis yang mana tidak cukup bila ditangani dengan satu metode psikoterapi saja. Oleh karena itu, digunakan beberapa metode psikoterapi dan beberapa pendekatan sekaligus.
Bentuk-bentuk utama dari terapi
Psikoterapi Suportif:
Mendukung fungsi-fungsi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada.
Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.
Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.
Psikoterapi Reedukatif:
Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan. Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama.
Psikoterapi Rekonstruktif:
Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.

Daftar Pustaka :

Elvira SD. Kumpulan Makalah Psikoterapi, Balai Penerbit FKUI, 2005: 5,7, 9.

Singgih, Gunarsa. (2004). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Maulany, R.F. (1994). Buku Saku Psikoterapi: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Corey, Gerald. (2009). Teori Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Refika Aditama.

Corsini, R.J. & Wedding, D. (2011). Current Psychotherapies. Ed. 9. Belmont: Brooks/Cole.

Supriyadi T, Indrawati E. (2005). Psikologi Konseling. Semarang: Antari Cipta Sejati.


PSIKOTERAPI

Artikel 1

Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang terandalkan dalam tatalaksana pasien psikiatri disamping psikofarmaka dan terapi fisik. Sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip dan beberapa kaidah yang ada dalam psikoterapi ternyata juga digunakan, antara lain dalam konseling, pendidikan dan pengajaran, atau pun pemasaran. Psikoterapi  secara etimologis mempunyai arti sederhana, yaitu psyche yang artinya jelas, yaitu mind atau sederhananya: jiwa dan therapy dari Bahasa Yunani yang berarti merawat atau mengasuh, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaanseseorang. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan psychotherapy tidak tercantum, tetapi ada perkataan psychotherapeutic yang diartikan sebagai perawatan terhadap suatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian.

Tujuan Psikoterapi
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuskan sebagai : Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
Selain itu terdapat beberapa tujuan psikoterapi, diantaranya:
memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
mengurangi tekanan emosional
mengembangkan potensi klien
mengubah kebiasaan
memodifikasi struktur kognisi
memperoleh pengetahuan tentang diri
mengembangkan kemampuan berkomunikasi & hubungan interpersonal
meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
mengubah kondisi fisik
mengubah kesadaran diri
mengubah lingkungan sosial

Unsur-unsur Psikoterapi
Menurut Masserman dalam Buku Saku Psikiatri, membagi tujuh parameter pengaruh dasar yang mencakup unsure-unsure psikoterapi. Yaitu peran sosial, hubungan, hak, retrospeksi, re-edukasi, rehabilitasi, resosialisasi dan rekapitulasi.

Artikel 2

Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
Istilah psikoterapi mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada sesuatu yang jelas, yaitu satu bentuk terapi psikologis, yaitu suatu rentangan waawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Perbedaan antara konseling dan psikoterapi adalah dari segi fokus konserennya dan dasar atau landasan kegiatannya. Psikoterapi fokus konserennya melalui penyembuhan-penyeseuaian-pengobatan, dasar landasannya psikopatologi. Koseling fokus konserennya pengembangan-pendidikan-pencegahan, dasar landasannya filsafat.
Perbedaan :
Konseling : kurang intensif, preventif, fokus pada edukasi/vocational/ perkembangan, setting di sekolah/industri/social work, jumlah intervensi kurang, supportive, penekanan normal / masalah ringan dan short term.

Psikoterapi : lebih intensif, kuratif/reapartif, fokus pada remedial, setting di rumah sakit/klinik/praktek pribadi, jumlah intervensi lebih banyak, reconstructive, penekanan disfungsi/masalah berat, dan long term.

Daftar Pustaka :

Elvira SD. Kumpulan Makalah Psikoterapi, Balai Penerbit FKUI, 2005: 5,7, 9.

Singgih, Gunarsa. (2004). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Maulany, R.F. (1994). Buku Saku Psikoterapi: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Corey, Gerald. (2009). Teori Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Refika Aditama.

Corsini, R.J. & Wedding, D. (2011). Current Psychotherapies. Ed. 9. Belmont: Brooks/Cole.

Supriyadi T, Indrawati E. (2005). Psikologi Konseling. Semarang: Antari Cipta Sejati.

Minggu, 09 November 2014

Tugas Softskill Manajemen

Analysis Artikel



Facebook adalah salah satu media sosial yang sudah tidak asing lagi bagi warga negara Indonesia.  Lalu CEO facebook itu sendiri telah memperkenalkan produk terbarunya kepada public. Dalam artikel ini pemasaran yang dilakukan CEO facebook adalah bekerja sama dengan memasukkan aplikasi ke dalam ponsel. Perencanaan pemasaran aplikasi ini akan terus dilakukan dibeberapa tipe ponsel yang sedang booming dikalangan masyarakat Indonesia. Tujuan dipasarkannya aplikasi ini untuk mempermudah masyarakat dalam Home screen dan lock pada ponsel.

Senin, 13 Oktober 2014

Membuat Perusahaan Sukses

Dila Fadilah (12512107)
3PA01

Apasih yang harus kita lakukan agar perusahaan atau bisnis yang kita jalani menjadi sukses dan terkenal?

Pertama kita harus mengetahui apa itu pengertian perusahaan. Yuk simak salah satu pengertiannya...

Perusahaan adalah suatu organisasi dimana sumber daya dasar seperti bahan dan tenaga kerja dikelola dan diproses untuk menghasilkan barang / jasa kepada pelanggan.
Hampir di semua perusahaan mempunyai tujuan yang sama, yaitu memaksimalkan laba. 

Jenis perusahaan dibedakan menjadi beberapa seperti:
1. Perusahaan manufaktur
2. Perusahaan dagang
3. Perusahaan jasa

Sedangkan bentuk dari perusahaan itu sendiri dibedakan menjadi 2:
1. Perusahaan perseorangan
2. Perusahaan perseroan

Dan bagaimana cara saya agar perusahaan yang saya dirikan dapat mencapai puncaknya yaitu pertama kita harus memikirkan produk apa yang ingin kita jual atau produksi lalu rencana pemasaran produk. Membuat manajemen yang bagus dan menargetkan konsumen juga sangat penting.

Usahakan produk yang anda produksi adalah produk yang sulit didapat atau masih jarang dan masih sedikit orang yang memilikinya tetapi sangat dibutuhkan oleh konsumen.

Lalu targetkan produk anda pada konsumen yang tepat. Ini juga sangat penting untuk menentukan harga yang pas.

Lalu pasarkan produk pada media, seperti media sosial di internet atau koran, majalah, dan selebaran seperti poster.

Cara yang paling mudah yaitu memasarkan lewat media sosial internet. Seperti dikalangan anak muda yang sedang booming saat ini seperti instagram, twitter, facebook, dan web. 

Dengan cara memasarkan yang baik dan benar memudahkan konsumen untuk membeli dan perusahaan yg kita jalani pun bisa menjadi terkenal dan sukses!


Kamis, 29 Mei 2014

Tugas 3

Nama: Dila Fadilah
Kelas: 2pa01
12512107

PENYESUAIAN DIRI


Penyesuaian diri adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkingannya atau proses bagaimana individu  mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungannya. penyesuian diri merupakan cara tertentu yang dilakukan individu untuk bereaksi terhadap tuntutan diri maupun tuntutan lingkungan. Penyesuaian diri adalah suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses serta menghasilkan hbungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup.
2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri
a. Penyesuaian pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri demi tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyatakan sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dalam mampu bertindak onjektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.
Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai oleh :
1) Tidak adanya rasa benci.
2) Tidak ada keinginan untuk lari dari kenyataan atau tidak percaya pada potensi dirinya.
Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai oleh :
1) Kegoncangan emosi.
2) Kecemasan.
3) Ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya sebagai akibat adanya jarak pemisah anatara kemampuan individu dan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya.
b. Penyesuaian sosial
Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial di tempat individu itu hidup dan berinterakasi dengan orang lain. Hubungan-hubungan sosial tersebut mencakup hungan dengan anggota keluarga, masyarakat, sekolah, teman sebaya, atau anggota masyarakat luas secara umum.
Proses yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Setiap kelompok masyarakat atau suku bangsa memiliki sistem nilai dan norma sosial yang berbeda-beda. Dalam proses penyesuaian sosial individu berkenalan dengan nilai dan norma sosial yang berbeda-beda lalu berusaha untuk mematuhinya, sehingga menjadi bagian dan membentuk kepribadiannya.
3. Karakteristik Penyesuaian Diri
a. Penyesuaian diri yang sehat, antara lain :
1) Mampu menilai dirinya sebagaimana adanya
2) Mampu menilai situasi secara realistic
3) Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik
4) Menerima  tanggung jawab
5) Kemandirian
6) Dapat mengontrol emosi
7) Berorientasi tujuan
8) Berorientasi keluar
9) Penerimaan social
10) Memilki filsafat hidup
11) Berbahagia
b. Penyesuain diri yang tidak sehat, antara lain:
1)  Mudah marah
2) Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
3) Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
4) Bersikap kejam atau senang menggangu orang lain yang usianya lebih muda
5) Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
6) Mempunyai kebiasaan berbohong
7) Hiperaktif
8) Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9) Senang mengkritik atau mencemooh orang lain
10) Kurang memiliki rasa tanggung jawab
11) Kurang memiliki kesadaran untuk menaati ajaran agama
12) Bersifat pesimis dalam menghadapi kehidupan
13) Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menghadapi kehidupan.
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyesuaian Diri
Individu dalam memberikan penilaian tentang baik buruknya penyesuaian, hendaknya juga perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penilaian individu tentang hal tersebut. Hal ini penting untuk diketahui agar individu dapat mengurangi salah penafsiran dalam memahami penyesuaian seseorang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri itu sebagai resources. Resources di definisakan sebagai hal-hal yang dapat melindungi individu dari efek frustasi dan kehilangan, sehingga individu dapat mengatasi berbagai rintangan dalam hidupnya. Dengan demikian resources sangat dibutuhkan untuk proses penyesuaian diri yang baik. Resources tersebut adalah:
a. Kemampuan untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain
Dalam menjalin hubungan yang suportif terdapat hubungan erat yang sangat hangat, saling memberikan perhatian dan dukungan, serta perasaan-perasaan yang dapat di ekspresikan.
b. Kondisi fisik yang sehat
Secara umum kesehatan, tingkat energi dan kekuatan sangat berperan dalam mengatasi stress emosional dalam kehidupan, sehingga membantu dalam melakukan penyesuaian diri. Daya kesembuhan sangat berperan bagi individu dalam mengahadap persoalan dalam hidupnya hal ini juga termasuk tempramen seseorang.
c. Intelegensi
Kesuksesan psikoterapi berhubungan dengan persepsi superior, memori, analisi, pemikiran, kepintaran dan kemampuan verbal individu.
d. Hobi dan Minat-minat tertentu
Suatu aktivitas kegemaran atau hobi yang benar-benar dinikimati pada saat melakukannya dapat berfungsi sebagai penahan dan penyegaran yang dapat meminimalkan dan membantu individu tersebut dalam mentolerir ketegangan dan kecemasan yang dirasakannya, serta dapat membantu dalam mempertahankan penyesuaian diri yang baik.
e. Keyakinan religius
Dengan tingkat religius yang tinggi akan menguatkan individu dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupannya sehingga ia dapat melakukan penyesuaian diri dengan baik.
f. Impian
Cita-cita, tujuan hidup, ideologi, atau persepsi dan sikap mengenai dirinya sendiri dapat memotivasi individu untuk berusaha tersu-menerus dalam melakukan penyesuaian diri.
Fatimah, N. (2006). Psikologi perkembangan. Bandung : Pusaka Setia.
Yusuf,S. (2004). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Senin, 28 April 2014

Tugas 2

Nama: Dila Fadilah
Npm: 12512107
Kelas: 2pa01
Kesehatan Mental

Kita semua pernah mengalami stress. Tetapi sebenarnya stress tidak selalu jelek.Stress dalam tingkat yang sedang itu perlu untuk meningkatkan kewaspadaan  dan minat pada tugas yang ada, dan membantu orang melakukan penyesuaian. Hidup yang serba tenang dan adem ayem itu menjemukan. Dalam ketenangan yang menjemukan itu orang misalnya menonton film detektif, menonton pertandingan, bermain game untuk mengatasi kondisi yang menjemukan ini. Sistem syaraf juga memerlukan rangsangan agar tetap terlatih dan selanjutnya berfungsi dengan baik.    Stress yang jelek adalah stress yang terlalu kuat dan bertahan lama. Stress ini bisa menganggu jsmani dan rohani. Contoh : siswa yang mengalami stress terus menerus karena tuntutan belajar yang terlalu berat dan tidak sesuai dengan kemampuan. Stress yang terus menerus juga bisa timbul dari polusi udara, kebisingan, kepadatan dan kemacetan lalulintas, tindakan kejahatan, beban kerja yang berlebihan. Stress berat juga bisa dialami seseorang karena kehilangan orang akibat bencana alam.  Stress yang timbul pada setiap orang pun bisa berbeda-beda, walaupun peristiwa yang dialami itu sama. Peristiwa tertentu yang membuat seseorang, bisa saja hanya menimbulkan stress ringan bagi orang lain. Bahkan dampak dari stress itu sendiri bisa berbeda-beda. Bagi sebagian orang stress bisa menghancurkan, untuk sebagian yang lain bisa jadi merupakan sebuah tantangan.  Ada orang yang justru sangat kreatif ketika stress ada juga yang baru belajar dengan efektif ketika menjelang ujian.

 Ø  Pengertian coping stress
Umumnya coping strategi  dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya. dan coping dipandang sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan akibat dari tekanan tersebut. Strategi coping merupakan suatu upaya indivdu untuk menanggulangi situasi stres yang menekan akibat masalah yang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kogntif maupun prilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya sendiri, coping yang efektif umtuk dilaksanakan  adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (lazarus dan folkman).      

Ø  Jenis-jenis Koping Stress
a. Koping psikologis pada umunya gejala yang ditimbulkan akibat stress psikologis tergantung pada dua factor, yaitu:
1. bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor, artinya seberapa berat ancaman yang dirasakan individu tersebut terhadap stressor yang diterimanya. 2. keefektifan strategi koping yang digunakan oindividu, artinya dalam menghadapi stressor, jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan adaptasi yang baik dan menghasilkan suatu pola baru dalam kehidupan, tetapi jika sebaliknya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis.
b. Koping psiko-sosial yang biasa dilakukan individu dalam psiko-sosial adalah menyerang, menarik diri, dan kompromi.
1. perilaku menyerang Individu menggubakan energinya untuk melakukan perlawanan dalam rangka mempertahankan integritas pribadinya. Perilaku yang ditampilkan dapat merupakan tindakan konstruktif maupun destruktif.
2. perilaku menarik diri Menarik diri adalah perilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain, jadi secara fisik dan psikologis individu secara sadar meninggalkan lingkungan yang menjadi sumber stressor.
3. Kompromi Kompromi adalah merupakan sikap konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk menyelesaikan masalah, lazimnya kompromi dilakukan dengan cara bermusyawarah atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, secara umum kompromi dapat mengurangi ketegangan dan masalah dapat diselesaikan.  
 Ø  Kepribadian Sehat Menurut Carl Rogers Salah satu  tokoh penting dalam teori humanistik adalah Carl Rogers.  Beliau adalah seorang ahli terapi yang dididik secara psikodinamika dan peneliti psikologi yang dididik secara teori perilaku, dia tidak sepenuhnya merasa nyaman dengan dua aliran Freud dan Winnicot, teori-teori Rogers diperoleh secara klinis yaitu berdasarkan pada apa yang dikatakan pasien dalam terapi. Teori Rogers sangat bersifat klinis, karena didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun tentang bagaimana seharusnya seorang terapis menghadapi seorang kliennya. Terapis memandang bahwa klien; memiliki pribadi, memiliki harga diri tanpa sarat,  memiliki nilai nilai tak peduli bagaimana keadaannya, tingkah lakunya atau perasaannya.
1. Struktur Kepribadian (Self) Rogers lebih mementingkan dinamika dari pada struktur kepribadian, Sejak awal Rogers mengurusi cara bagaimana kepribadian berubah dan berkembang, Rogers tidak menekankan aspek struktural kepribadian.
2. Dinamika kepribadian Menurut roger organisme memiliki satu motivasi utama yaitu kecenderungan untuk aktualisasi diri dan tujuan utama hidup manusia adalah untuk menjadi manusia yang bisa mengaktualisasikan diri, dapat diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap makhluk hidup yang bertujuan mengembangkan seluruh potensi-potensinya sebaik mungkin.
3.  Kepribadian Rogers tidak memfokuskan diri untuk mempelajari “tahap”  pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, namun dia lebih tertarik untuk meneliti dengan cara yang lain yaitu dengan bagaimana evaluasi dapat menuntun untuk membedakan antara pengalaman dan apa yang orang persepsikan tentang pengalaman itu sendiri.

Ø  Kepribadian Sehat Menurut Allport “Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya”. Dalam teori Allport juga memandang bahwa kesehatan psikologis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke belakang, dapat dikatakan bahwa seluruh teori yang dikemukakan oleh Allport ini sangat bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Freud. Kualitas Kepribadian yang matang menurut allport sebagai berikut:
1. Ekstensi sense of self · Kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas. · Kemampuan diri dan minat-minatnya dengan orang lain beserta minat mereka. · Kemampuan merencanakan masa depan (harapan dan rencana).
2. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain, Kapasitas intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion (pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang).
3. Penerimaan diri Kemampuan untuk mengatasi reaksi berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal : mengolah dorongan seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri, presan proporsional.
4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan Kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah, memiliki keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi pelbagai persoalan tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang merusak.
5. Objektifikasi diri: insight dan humor Kemampuan diri untuk objektif dan memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
6. Filsafat Hidup Ada latar belakang yang mendasari semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan dan arti. Contohnya lewat agama. Untuk memahami orang dewasa kita membutuhkan gambaran tujuan dan aspirasinya. Tidak semua orang dewasa memiliki kedewasaan yang matang. Bisa saja seseorang melakukan sesuatu hal tanpa tahu apa yang ia lakukan.

http://bionikith.blogspot.com/2013/04/pengertian-coping-dan-jenis-jenis.html

http://snaniris.blogspot.com/2013/04/koping-coping-stress.html

Samsyu Yusuf dan Juntika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: Rosda